Medicomz Indonesian RPG

Game RPG kesehatan pertama di Indonesia. Mainkan Puskesmas Virtual dengan pasien dan keluhan sungguhan,serta metoda pengobatan sesuai standar layanan medis Indonesia,dan belajar menjadi dokter yang cerdas dan berdedikasi tinggi

Mata Air Ansamble

Menjalin nada dengan cinta, menguntai bunyi dengan hati

Game Mochi chef

Ayo ketahui pola makanan yang sehat dan bergizi untuk anak anda

Game,Aplikasi,dan Ensiklopedia

Creative.Id,content and applicaton developers

Mobile Content Multi Platform

Salah satu rancangan aplikasi yang sedang kami kembangkan

DNA dan Aktivasi Otak Manusia (part 1)

                Jika sebuah gen kera yang dikenal sebagai gen GUSI dapat mempengaruhi kemampuan otaknya dalam mengatasi dorongan agresivitas dan kemarahan yang merusak, lalu bagaimana dengan DNA manusia ? Manakah yang terlebih dahulu berubah, DNA ataukah jaringan otak kita ? Bayi kera yang menjadi agresif dan merusak adalah bayi kera yang kehilangan sosok induknya. Ketiadaan induk kera berkorelasi dengan minimnya sentuhan dan perlindungan yang menenangkan. Tidak adanya interaksi dengan induk atau sumber keamanan dan kehangatan akan menimbulkan gelombang ketakutan dan kecemasan yang diperankan oleh senyawa kimia tubuh yang termasuk dalam kategori hormon. Badai hormon cemas ini ternyata menginaktivasi atau menghambat aktivitas gen GUSI yang bertugas menghasilkan enzim guanilat siklase yang terlibat dalam proses produksi hormon tenang. Maka secara sederhana dapat disimpulkan bahwa DNA anak atau bayi kera ini amat rentan terhadap berbagai faktor lingkungan yang dihadapinya. Kesedihan dan kegelisahan karena kehilangan induk akan memakzulkan kemampuan DNAnya untuk memproduksi hormon yang menghadirkan rasa tenang. Penelitian lanjutan yang juga masih dilakukan terhadap perilaku kera, menunjukkan bahwa tidak hanya bayi kera yang ditinggal mati induknya saja yang akan mengalami badai kecemasan, anak kera yang sudah sedikit lebih dewasa ketika dipisahkan paksa dengan induknya akan memunculkan sikap dan perilaku yang sama. Hasil kajian ilmiah ternyata menunjukkan bahwa gen yang serupa dengan gen GUSI pada kera terdapat pula pada DNA manusia. Dengan demikian kurangnya kasih sayang, belaian, dan hangatnya perlindungan orangtua akan mendorong munculnya sifat agresif dan destruktif, terkait dengan terjadinya hambatan pada aktivitas gen ketenangan dan kasih sayang.
                Maka tak heran apabila mekanisme inisiasi menyusui dini dan terus memberikan air susu ibu (ASI) secara eksklusif akan dapat mendorong teroptimasinya peran-peran gen dalam DNA manusia yang bertanggungjawab untuk menumbuhkan kehangatan dan kasih sayang. Dimana kehangatan dan kasih sayang memiliki sirkuit khusus yang terdiri dari area otak dan sekumpulan sel syaraf yang bekerja dengan panduan neurotransmiter atau hormon otak. Maka peran DNA dalam hal ini adalah menyediakan “resep” dasar bagi proses produksi sekian banyak enzim, hormon, dan senyawa kimia yang bekerja secara sinergis untuk mempengaruhi kinerja sel-sel syaraf. Maka tak heran pula apabila anak-anak yatim piatu dalam Islam dipandang sebagai wasiat yang begitu istimewa. Tak hanya harta dan haknya saja yang mesti dijaga, melainkan pula kebutuhan akan kasih sayangnyapun harus kita sediakan bersama. Bukankah Rasulullah SAW adalah sosok yang amat mencintai anak-anak ? Jika beliau hendak menengok anak dan cucunya sendiri, beliau senantiasa menyempatkan dan meluangkan waktu khusus untuk membelai, memeluk, menggendong, dan mencium anak-anak kecil yang beliau jumpai di keramaian pasar. Bahkan cucu-cucu kesayangan beliau,Hasan dan Husen, kerap bermain “kuda-kudaan” di saat Rasulullah SAW tengah bersujud dalam perannya sebagai imam sholat fardhlu di Masjid Nabawi.
Sejarah hidup Rasulullah SAW yang juga yatim piatu menabalkan hipotesa bahwa sesungguhnya aktivasi DNA untuk merangsang munculnya kasih sayang di jaringan otak juga dapat melalui perantaraan orang-orang di sekitar anak yang ikhlas mencurahkan kasih sayangnya. Keluarga besar Abdul Muthalib kakek Rasulullah dan juga keluarga besar Abu Thalib pamanda Rasulullah, amat sangat menyayangi Muhammad kecil. Demikian pula peran curahan kasih sayang Ibunda persusuan Rasulullah SAW, Bunda Halimah binti Tussadiyah, seolah tak putus-putusnya mengalirkan kesejukan sampai ke relung-relung DNA Rasulullah.
Jika saat ini kita melihat betapa agresif dan destruktifnya sebagian dari anak-anak dan remaja di Indonesia dan juga di berbagai belahan dunia lainnya, maka semestinya kita bertanya, apakah perilaku itu terjadi karena mereka kurang mendapatkan kehangatan dan kasih sayang ? Secara faktual memang dapat dikatakan saat ini banyak terdapat anak-anak yang secara de jure memiliki orangtua yang lengkap, tetapi secara de facto mereka adalah yatim piatu. Mengapa ? Karena intensitas komunikasi dan interaksi antara orangtua dan anak saat ini sedemikian minim serta terdistorsi oleh berbagai tuntutan riil seperti beratnya proses pendidikan yang merupakan konsekuensi dari semakin komptetitifnya dunia kerja. Ukuran-ukuran capaian psikososial serta normapun bergeser menjadi lebih bersifat materialistis. Kasih sayang dan atensi orangtua kini diwujudkan dalam bentuk uang jajan, kendaraan bermotor, biaya sekolah elit yang sangat mahal, dan rumah dengan segala fasilitas mewah di dalamnya. Liburanpun kini bergeser tidak lagi piknik bersama ke gunung dan pantai, melainkan lebih diminati semacam wisata belanja di mall-mall dan di negara-negara surga belanja seperti Hongkong dan Singapura. Padahal silaturahmi dengan alam yang merupakan media belajar terindah yang telah Allah SWT karuniakan sebagai sebuah anugerah sekaligus amanah, adalah proses belajar yang sarat dengan berbagai kelebihan. Menikmati rinai hujan yang menerpa tanah kering di halaman misalnya, selain memberikan sensasi kesejukan, dan meruapnya aroma tanah yang basah, ternyata juga menjadi penghantar bagi serombongan mikroba atau jasad renik bernama Mycobacterium Vaccae untuk terhirup ke dalam paru-paru manusia. Kedatangan mereka di paru-paru manusia adalah sebuah persinggahan untuk selanjutnya melanjutkan proses berkelana di sekujur tubuh manusia melalui serangkaian pembuluh darah. Alkisah sampailah mereka ke jaringan otak manusia. Dan mereka berkelindan dengan reseptor-reseptor molekuler di permukaan sel-sel yang bertugas memproduksi serotonin. Hormon tenang. Reseptor itu membawa pesan transduksi kepada untaian rantai ganda DNA. Dan terjadilah proses transkripsi untuk menyandi serangkaian nukleotida yang jika di”masak” akan menghasilkan serotonin. Maka kehadiran serotonin akan menghasilkan kedamaian dan ketenangan yang menyejukkan pikiran. Maka ketenangan itu akan memfasilitasi otak untuk berpikir jernih serta mampu mengurai dan menganalisa berbagai tantangan kognitif. Dan rinai hujan yang membuncah serta memecah kegersangan hari, juga akan menyuburkan kecerdasan dan kemampuan menyelesaikan permasalahan.
Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa ada kebenaran yang tersurat dalam aksioma hubungan korelatif antara lingkungan,perilaku, dan kinerja otak. Data hasil riset di bidang psikologi pendidikan juga menunjukkan hasil serupa. Carla Hannaford seorang guru besar ilmu psikologi perkembangan dan pendidikan dari University California of Los Angeles merilis hasil penelitian yang membuktikan bahwa terdapat hubungan kausatif (sebab-akibat) antara pelatihan motorik berulang dan ritmis dengan kemampuan baca-tulis pada anak usia sekolah. Gerakan ritmik yang dilakukan adalah membuat gerakan imajiner menyerupai angka 8 yang tertidur. Gerakan melingkar tersebut ternyata mengaktivasi daerah ganglia basalis yang berhubungan dengan otak kecil (serebelum) dan area asosiasi di korteks otak, termasuk area baca-tulis. Saat ini metoda aktivasi otak dan DNA melalui berbagai stimulus multisensori mulai pesat sekali berkembang. Senam ergonomik berbasis gerakan sholat diusung Pak Madyo dengan kelompok Tapak Limannya, metoda sholat khusu’ dipopulerkan oleh Ustadz Abu Sangkan, modulasi limbik diperkenalkan oleh Ary Ginanjar Agustian lewat pelatihan ESQ, interferensi positif gelombang otak dilakukan oleh Erbe Sentanu melalui Quantum Ikhlasnya, belakangan musisi Didi AGP juga memperkenalkan pajanan musik untuk relaksasi dan aktivasi bagian serta fungsi tertentu dari otak manusia. Aspek lain dalam modulasi dan optimasi fungsi otak juga merambah dimensi kognitif yang parameter atau indikator keberhasilannya dapat terlihat dari tercapainya peningkatan prestasi akademik. Muncul dan berkembang metoda Super Brain, Memory Boosting, pelatihan otak kanan, dan yang terakhir booming adalah aktivasi otak tengah. Sebelum kita menganalisisnya lebih jauh, tak kalah trendinya adalah uji sidik jari yang dianggap secara fenotip merepresentasikan aspek genotip atau genetik seseorang. Maka sebuah lembaga bimbingan belajar dan sebuah merek susu terkemuka mengadopsinya sebagai sebuah metoda penapisan instan untuk mengetahui bakat dan potensi alamiah seseorang, khususnya dalam bidang-bidang akademik. Tak kurang pula para profesional di bidang psikologi terlibat secara aktif dan seolah menjadi “brand ambassador” bagi proses bisnis waralaba berbagai metoda tersebut. Sebenarnya semua klaim yang diajukan setelah mendapat validasi ilmiah melalui serangkaian proses riset multi senter itu selalu memiliki sisi kebenaran. Sidik jari misalnya, tentulah berkorelasi dengan karakteristik genetik yang diwakili oleh DNA. Tetapi proses identifikasi dan aktivasi yang biasanya berlangsung cepat dan instan memang secara neurosains agak sulit dibuktikan dapat membangun struktur fungsional baru yang bersifat persisten atau mampu menetap dalam kurun waktu tertentu. Dan masih layak pula untuk dipertanyakan hubungan-hubungan korelasional antara karakter yang bersifat fisik atau fenotipik dengan karakter psikologis yang berada dalam dimensi mental.
Sebagai pembanding yang obyektif cermatilah proses sholat yang bersifat repetitif dan frekuensinya dipertahankan secara konstan. Perubahan perilaku yang diharapkan muncul rupanya memiliki prasyarat konsistensi dan “recharging” dalam jarak waktu tertentu. Maka konsep ibadah yang termaktub dalam rukun Islam adalah tesis yang faktual tentang perlunya sikap istiqomah dan ketekunan serta loyalitas tertinggi dalam menegakkan integritas vertikal. Loyalitas Tauhid. Perubahan mendasar di ranah hayati terutama yang terkait dengan DNA sekurangnya memiliki sekian lapis prasyarat sebelum diamini dan diimani sebagai jalan yang wajib ditempuh serta syariat yang wajib dilaksanakan. Ada konsep stimulus lingkungan, ada konsep keseimbangan dan keterkaitan sistemik, ada konsep komunikasi saling berbagi manfaat, ada konsep seleksi dan filterisasi serta verifikasi otentisitas melalui serangkaian peran faktor transduksi, molekul promoter, penyempurnaan pesan, dan pemberian aksesoris fungsional pada molekul pra-protein. Maka DNA dan otak memerlukan sebuah sistem yang komprehensif untuk menjamin terjadinya suatu perubahan yang bersifat konstruktif. Jika kita kembali pada konsep multipotensialitas dari setiap sel punca atau sel-sel awal manusia, tahapan-tahapan biologis yang dilalui selama proses tumbuh kembang adalah mekanisme spesialisasi yang bertujuan untuk mengoptimalkan  setiap satuan fungsional tubuh yang disebut organ dan sistem organ. Perjalanan ini dimulai dari proses konsepsi atau peleburan antara sel nutfah ayah ke dalam sel telur Ibu. Bersatunya material genetik ini kemudian diikuti dengan pembelahan, pengaturan peran diri (diferensiasi), pematangan (maturasi), dan pembelahan sel untuk membentuk jaringan dan organ yang sangat spesifik. Beberapa gen diduga terlibat dalam proses pemanduan sel-sel bergerak dan tumbuh ke arah yang benar. Mereka bekerja berdasar hukum-hukum biologis yang seolah tak kasat mata. Hukum itu terbangun berdasar akumulasi proses interaksi, saling memahami, dan saling berbagi di antara sel-sel janin yang tengah bertumbuh. Maka stimulasi yang tepat, sentuhan, frekuensi kata-kata yang diucapkan, spektrum warna-warna yang dipaparkan, serta kondisi-kondisi psikologis yang diciptakan adalah prosedur aktivasi dari sekian banyak sistem faali tubuh manusia. Maka pada masa-masa awal kelahiran kita ke muka dunia, kita sesungguhnya belumlah mampu merangkai tanda ataupun membedakan bentuk dan warna. Kita dikaruniai suatu kondisi istimewa yang disebut sinestesia. Yaitu suatu kemampuan untuk memanfaatkan seluruh potensi inderawi kita secara umum. Telinga dapat melihat, mata dapat mendengar, kulit dapat mencium, dan beraneka fungsi indera lainnya yang saling bertukar alat pengelola. Kini fungsi semacam itu kembali diperbincangkan orang. Konsepnya diperkenalkan sebagai metoda aktivasi otak tengah. Pada hakikatnya metoda tersebut sebenarnya adalah sebuah program re-install yang bertujuan untuk mengembalikan kembali kemampuan masa awal kehidupan. Dengan metoda dan setting yang sedikit berbeda, seorang pengawal Dalai Lama, pemimpin spiritual Tibet dalam pelarian, pernah membukukan kisah hidupnya dan buku itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Mata Ketiga”. Pengawal Dalai Lama itu bernama Tuesday Lobshang Rampha. Dalam bukunya ia berkisah bahwa setelah melalui serangkaian proses seleksi dan pengamatan yang cermat dari para rahib senior, ia terpilih untuk menjadi salah satu pengawal Dalai Lama. Prosesi tahap berikut yang harus dilakukan bukanlah sekedar memperdalam ilmu agama ataupun proses meditasi, melainkan ia juga diharuskan menjalani sebuah ritual yang cukup mendebarkan. Di kepalanya ditancapkan sebuah paku baja panjang tepat di antara kedua alisnya. Panjang paku baja itu mungkin berkisar sekitar 12 cm. Setelah paku tertancap dengan sempurna, ia harus mendekam di dalam sebuah kamar gelap (sama sekali tanpa cahaya) selama kurang lebih 3 minggu. Usai menjalani prosesi yang tentu cukup menyakitkan itu paku dikeluarkan dan ia diminta untk beraktivitas sebagaimana biasa. Tetapi Tuesday kemudian merasakan hal-hal aneh yang tak mampu dicerna pikirannya. Ia seolah-olah dapat membaca pikiran orang-orang di sekitarnya. Bahkan ia dapat membedakan siapa saja yang berniat buruk dan siapa yang berniat baik. Demikianlah kemudian kemampuan Tuesday ini menjadi semacam mekanisme seleksi terhadap tamu atau orang-orang yang berinteraksi dengan Dalai Lama. Tak kurang beberapa kali Dalai Lama terselamatkan karena Tuesday mampu mendeteksi niat buruk dari beberapa orang yang sengaja datang bertamu. Metoda seperti yang dilakukan terhadap Tuesday ini ternyata dikenal sebagai aktivasi mata ketiga.  

DNA dan Aktivasi Otak Manusia (part 2)

Dalam konteks neurosain sebenarnya konsep “mata ketiga” atau organ sensoris yang mampu mengubah stimulus foton dari cahaya menjadi serangkaian reaksi kimia memang terbukti ada. Kelenjar pineal dan beberapa protein serta hormon yang hanya bisa aktif dalam keadaan gelap tanpa cahaya seperti melatonin memang diregulasi oleh keberadaan cahaya. Bagian-bagian ini berperan penting dalam siklus tidur-bangun, relaksasi, dan kinerja sistem imun. Jika diaktifkan dengan cara seperti yang dijalani oleh Tuesday maka secara hipotetikal tentunya akan terbentuk sirkuit-sirkuit neuronal (sel syaraf) baru seiring dengan terjadinya proses perbaikan sel-sel syaraf serta neuroglia yang sengaja dirusak. Tetapi perlu diingat bahwa setiap perubahan dalam setiap jaringan tubuh manusia akan selalu disertai berbagai penyesuaian sebagai bentuk kompensasi ataupun adaptasi dari penyusun jaringan di sekitarnya. Maka jika aktivasi otak dilakukan dengan mengedepankan salah satu sirkuit dengan fungsi tertentu, hampir dapat dipastikan akan terjadi kompensasi berupa berkurangnya fungsi daerah lain dan juga akan terjadi efek bergulir dimana aktivasi juga akan mengaktifkan beberapa daerah dengan fungsi-fungsi yang mungkin saja kelak tidak akan terkendali. 
Dalam ranah neurosains pula, sebenarnya aktivasi melalui pengondisian lingkungan,dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya manusia atau otaknya cenderung tergiur oleh “hadiah’’,bonus, tambahan pendapatan, “rejeki nomplok” atau kenyamanan yang sesungguhnya tidak rasional. Lihat iklan berupa selebaran di mall-mall yang menjanjikan anda akan mendapat hadiah langsung gratis tanpa embel-embel jika mampir ke tokonya, ternyata hadiah itu diberikan jika kita membeli produk tertentu yang untuk “iming-iming” juga seolah berbonus luar biasa dan telah didiskon habis-habisan. Walhasil kita membawa pulang hadiah sebuah seterika berharga 200 ribu disertai belanjaan kita berupa mesin cuci senilai 5 juta,he3x. Dorongan reward palsu yang kuat untuk mendapatkan kenyamanan semu ini diperankan oleh nukleus akumben yang akan memproduksi dan mengaktivasi dopamin dan neuron-neuron dopamin. Terlalu kuatnya keinginan untuk mendapat hadiah, meski palsu, membuat area korteks prefrontal dan hipokampus gagal membangun sinergi belajar dan pendalaman persepsi. Padahal jika sejenak saja kita merenung dan membiarkan korteks prefrontal dan hipokampus untuk menjalankan sistematika analisa rasional, maka kita akan terselamatkan dari jebakan kepalsuan. Maka jangan terburu-buru dalam mengambil keputusan. Bukankah Allah SWT paling tidak menyukai sifat tergesa-gesa yang kemudian akan diikuti oleh kebodohan akibat melampaui batas kemampuan, dan diakhiri dengan keluh kesah yang berkepanjangan. Memori kesakitan dan kegagalan ini akan terus menstimulasi amigdala untuk memproduksi sifat kufur nikmat. Sifat gemar berjudi ini dijumpai pula pada orang-orang yang mendapatkan terapi pemberian dopamin untuk memperbaiki aktivitas motorik yang terganggu akibat kelainan jaringan syaraf di daerah basal ganglia/striatum (Jonah Lehrer, 2006). Maka terbukti judi yang jelas dilarang dan diharamkan agama adalah sebuah perbuatan sia-sia yang tak akan pernah menguntungkan manusia,bahkan memberikan kerugian sistematik melalui pembiasaan/latihan bagi sisi emosional otak untuk selalu mengambil kendali pembuatan keputusan. Sifat keputusan yang dihasilkan hampir dapat dipastkan pastilah amat dipengaruhi oleh pemenuhan kebutuhan nafsiyah dan dilakukan secara tergesa-gesa dan kurang pertimbangan sehingga hasilnya tentu tidak akan sesuai dengan harapan. Masih pada kasus di level yang sama pada pemain yang mempertaruhkan modal dengan memilih resiko investasi rendah,jika ia mencabut kartu yang benar (berwarna) maka reaksi pertamanya adalah ia bukan bergembira seperti wajarnya seorang pemenang, ia malah menyesal karena tidak memilih resiko investasi tertinggi. Kondisi ini sesuai dengan fenomena “missing error”, alias otak kita justru bukannya mensyukuri rejeki yang telah didapatkan, melainkan menyesali rejeki yang “batal” didapatkan ketika menang. Sederhananya begini: “Wah kalo tau bakal menang saya pasang resiko tinggi biar hadiahnya lipat-lipat !” gitu loh cara mikirnya otak kita. Jadi yang dimiliki tidak disyukuri,yang bukan milik malah disesali. Tidak gembira dengan yang dipunyai,sedih kehilangan yang tidak dipunyai. Bukan milik kok disesali ! Aneh ya kita ini ? Nah fungsi ini diperankan oleh nukleus kaudatus yang juga berperan sebagai stasiun radio kekecewaan. Berita tentang kegagalan meraih impian semu ini segera disebarluaskan (broadcast) ke segenap penjuru otak. Maka kita menjadi impulsif, marah-marah tidak jelas yang sesungguhnya proyeksi dari kemarahan terhadap diri sendiri.
Kecenderungan dan keyakinan tanpa dasar rasional (misal percaya pada batu Ponari) akan menonaktifkan korteks prefrontal,hipokampus, dan girus singulata. Sehingga meski pola-pola tersebut diulang dan sedemikian jelas, semua alasan rasional otak bawah sadar akan kalah (menyerah) kepada alasan emosional yang dimunculkan dari area amigdala (emosi dan memori negatif) yang mendapat asupan ataupun pengondisian melalui budaya dan hirarki sosial (termasuk mitos). Kisah 5 monyet berikut adalah contoh hasil penelitian kongkretnya. Alkisah ada suatu penelitian yang melibatkan obyek penelitian 5 ekor kera di sebuah kandang khusus di kebun binatang. Di tengah-tengah kandang terdapat sebatang pohon palsu yang dilengkapi sensor untuk mengaktifkan sejumlah pompa air. Di atas pohon tersebut digantungkan buah-buahan segar yang teramat menggiurkan bagi kera. Tetapi setiap kali seekor di antara mereka mencoba memanjat (batang pohon ukurannya hanya dapat dipanjat seekor kera saja) di seperempat bagian batang sebelah bawah sensor akan teraktivasi. Selanjutnya pompa air akan menyemprotkan galonan air dingin dari berbagai penjuru, sehingga baik kera yang akan memanjat maupun kawanannya yang ada di bawah akan tersiram sampai basah kuyup. Demikianlah berulang-ulang terjadi sehingga kawanan kera menyadari bahwa pohon godaan itu berbahaya ! Lalu kera pertama diganti seekor kera pendatang baru yang tentu saja tidak tahu menahu tentang bahaya pohon godaan. Segera saja ia mencoba memanjat, tapi serempak kawanan lama beramai-ramai mencegahnya. Kera baru meski tak mengerti pada akhirnya menurut. Kera kedua dan seterusnyapun diganti satu persatu sampai tak ada lagi kera angkatan pertama. Tapi meski semua kera di dalam kandang itu belum pernah tersemprot, tak ada satupun di antara mereka yang berani memanjat pohon godaan. Bahkan ketika kera diganti sampai generasi ketigapun (dengan catatan diganti satu persatu), mereka tetap menjaga “tradisi” turun temurun untuk menjauhi pohon godaan, atau kini sudah menjadi pohon “keramat”.  Padahal pompa-pompa penyemprot semenjak generasi kera pertama diganti sudah tak diaktifkan lagi, bahkan instalasinyapun sudah dilepas. Begitulah kuatnya tradisi, mitos, dan nilai budaya mencengkeram (menjajah) otak manusia. Ada konsekuensi menakutkan yang siap menerkam jika aturan ataupun tata nilai hasil pengalaman dan pengamatan empiris serta konsensus tersebut tidak dijalankan. Memori dan emosi negatif ini dikelola dan dipertahankan oleh amigdala sebagai bagian dari bentuk pertahanan psikologis manusia.
 Sahabat udara saya; Shahnaz Haque dan Gilang Pambudhi dari Delta FM pernah menyitir sebuah kisah hikmah yang relevan sekali dengan sifat manusia yang kita jadikan bahan renungan ini. Alkisah ada seorang pembuat jam Swiss yang terkenal sangat presisi mampu berkomunikasi secara verbal dengan jam yang tengah dibuatnya. Kira-kira dialog itu demikian: “Wahai jam yang budiman, kelak ketika engkau telah selesai dibuat dan berfungsi sebagai jam, sanggupkah kau untuk berdetak sebanyak 31 juta 104 ribu kali dalam setahun ? Jam keder mendengar jumlah angka yang disampaikan sang pembuat jam, iapun menjawab: “maaf Bapak pembuat jam yang budiman, tampaknya aku tidak mampu jika harus berdetak sebanyak itu…” Lalu si pembuat jam mengajukan pertanyaan kedua: “Jika begitu mungkin kau sanggup untuk berdetak sebanyak 2 juta 592 ribu kali dalam sebulan ?” Jam terhenyak, jumlah yang diajukan sang pembuat jam baginya masih sangat besar dan ia berpikir tak mungkin untuk menyanggupinya. “Sekali lagi maaf Bapak budiman, aku masih tak sanggup.” Sang pembuat jam hanya mengangguk dan menatap dengan bijak,”bagaimana jika kau hanya harus berdetak sebanyak 86 ribu 400 kali saja dalam sehari ?” Tanyanya dengan jenaka. Jam bimbang,ia memandangi sekujur tubuhnya yang mungil, ia ragu apakah ia bisa memenuhi permintaan itu.”Maafkan aku untuk kesekian kalinya lagi wahai Bapak budiman, tampaknya sekali lagi aku belum mampu memenuhi permintaanmu….” jam tersipu dan tertunduk malu, tapi apa mau dikata, ia ragu terhadap kemampuan dirinya yang memang berukuran kecil dan mungil itu. Lalu dengan tetap ceria sang pembuat jam kembali menawarkan berapa kali kiranya si jam mungil harus berdetak, “kalau 3600 kali berdetak dalam 1 jam kiranya kau mampu bukan ?” Tanyanya dengan penuh harap. Jam mungil merasa tenggorokannya tercekat, ia sesak, tak mampu lagi ia berkata-kata saking malunya. Sang pembuat jam tak menunggu jawaban dari si jam mungil, ia langsung berseru..”baiklah kalau begitu kau cukup berdetak 1 kali saja dalam 1 detik, bagaimana ?” Tanpa berpikir panjang jam mungil berteriak dengan gembiranya: “AKU MAU..AKU MAU….!!!” Dan semenjak saat itu jam mungil terus berdetak tanpa henti 1 kali setiap detik, 3600 kali setiap jam, 86.400 kali setiap hari, 2.592.000 kali setiap bulan dan 31.104.000 kali pertahun. Dan seperti jam Swiss lainnya, usianya kini sudah lebih dari 10 tahun dan ia terus saja berdetak tanpa jeda dan henti.
Moral dari kisah ini adalah acapkali kita terjebak ke dalam simbol-simbol ketakutan yang irasional, serta hanya mau melihat peluang yang menurut kita sesuai dengan kapasitas yang kita miliki. Jika hal ini yang terjadi sesungguhnya kita tengah memandang rendah diri kita sendiri. Terbukti jam mungil yang merasa dirinya kecil tak kalah hebat ketika sudah mengalami dan menjalani apa yang selama ini ditakuti.
 pola tarik menarik antara dorongan dasar untuk berempati dan bersifat sosial yang diperankan oleh area orbitofrontal dan hipokampus dan nukleus raphe dengan sifat ingin memiliki dan takut kehilangan yang diwakili serta dikelola oleh nukleus akumben, girus singulata, amigdala, dan nukleus kaudatus, serta peran dominan daerah Insula. Semakin rapat korelasi atau hubungan antara “menyumbang”/menyisihkan sebagian penghasilan dengan kenyamanan diri (saat ini) maka akan semakin kuat dorongan untuk menolak atau setidaknya meminimalisir besaran nominal yang akan disisihkan. Sebaliknya dalam konteks yang nyaris serupa, adanya penekanan nilai spiritual yang bersifat transenden dan menjanjikan keselamatan abadi serta “ancaman” yang sangat menakutkan di bawah sadar, membuat orang lebih ikhlas dan rela menyumbang dalam besaran nominal berprosentase relatif lebih besar. Setelah “kewajiban” struktural itu ditunaikan maka beban berupa tekanan rasa bersalah seolah disingkirkan dan kadar neurotransmiter seperti serotonin dan dopamin serta love chemical seperti oksitosin akan meningkat. Peningkatan ketenangan dan cinta akan berdampak pada beralihnya (switching) sirkuit cemas ke sirkuit produktif. Korteks orbitofrontal dan prefrontal akan bersinergi dengan hipokampus dan bagian lain di korteks, striatum, dan diensefalon, serta mesensefalon untuk membangun sinergi kecerdasan. Maka seseorang yang menunaikan ibadah termasuk ibadah berdimensi sosial seperti Zakat Infaq Shodaqoh akan mendapatkan bonus langsung berupa kelembutan hati, kelapangan dada, dan kejernihan pikiran !  Selanjutnya kondisi ini akan menumbuh suburkan gejala adiksi pada tingkat kesadaran tertentu yang memberikan kenyamanan lahir bathin, ketenangan dunia akhirat !      

BELAJAR ASYIK DENGAN KOMIK dan GAME CIAMIK

            Teknologi informasi yang berkembang pesat telah mendorong munculnya genre baru peradaban manusia, era kreatif. Era ini diwarnai dengan konektivitas tanpa batas, jejaring sosial tanpa tersegmentasi variabel geografis, geneaologi, dan juga ideologi. Kini tumbuh dengan suburnya konsep-konsep “without walls”, sekolah tanpa batas dinding, rumah sakit tanpa dinding, ngaji tanpa dinding, arisan tanpa dinding, bahkan TV tanpa studio atau dagang tanpa toko !Prof Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta baru-baru ini mencetuskan gagasan tentang alaf baru dalam timeline komunikasi melalui salah satu twittnya yang kalau dikutip secara utuh berbunyi demikian: “kita hidup di era visual dan virtual. Media massa sangat sukses memfasilitasi dunia pencitraan. Terutama bagi selebriti dan politisi.” Bahkan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden RI, dalam mendesain kabinetnyapun sampai merasa sangat perlu mengakomodir pertumbuhan sektor ekonomi baru yang disebut ekonomi kreatif. Saat ini Ibu Marie Elka Pangestu seorang PhD ekonomi diminta untuk menggawanginya. Visual, virtual, dan konektivitas tanpa batas adalah modal dasar kreativitas, termasuk tentu saja dalam bidang ekonomi. Tak kalah hebohnya PT.Telkom Indonesia,Tbk sebagai perusahaan plat merah terbesar di bidang telekomunikasi dan sistem informasipun giat menggalakkan inovasi dan kreativitas berbasis teknologi informasi. Para guru dan santri dilatih dan ditingkatkan kemampuannya dalam mengadaptasi perkembangan teknologi informasi. Berbagai aplikasi kreatifpun dikembangkan untuk menunjang proses bisnis, pendidikan, dan juga hiburan. Buku,komik, majalah digital, aplikasi pendidikan seperti yang dikreasikan oleh Pesona Edu dan Indismart, perlahan tapi pasti sudah mulai menggantikan materi-materi pembelajaran konvensional yang kini dianggap tak lagi ramah lingkungan karena berbahan selulosa.

                Tapi tak kalah lajunya, seiring derasnya perkembangan konstruktif dari teknologi informasi berkembang pula ekses atau dampak dekonstruktif dari pemanfaatannya. Game, terutama game on-line banyak dituduh menimbulkan adiksi atau kecanduan yang berdampak pada munculnya fenomena “pseudo-realita”, dimana para pemainnya seolah tercerabut dari fakta yang semestinya dihadapi dalam kehidupan keseharian mereka. Catatan-catatan media dan otoritas kampus mencatat beberapa mahasiswa bahkan sampai harus drop out karena gagal memenuhi kewajiban minimal dalam proses studinya, akibat kecanduan game. Daring juga menyediakan berbagai fasilitas adiksi yang tidak hanya berupa game semata melainkan juga keterhubungan virtual yang menciptakan ruang-ruang publik maya tempat bersosialisasi yang sangat menghanyutkan. Mengapa ? Personalitas yang dalam bahasa latinnya berasal dari akar kata “persona” alias topeng, mendapatkan “kanvas” baru untuk melukiskan “wajah” sesuai harapan atau yang diinginkan. Siapapun bisa menjadi apapun yang diimpikan di dunia maya. Seorang introvert di dunia sosial nyata dapat saja berubah menjadi pribadi yang ofensif, dan mengompensasikan hendayanya selama ini dalam bentuk-bentuk komunikasi virtual. Kini banyak guru di Singapura, beberapa negara Eropa, dan juga Amerika Serikat telah merasakan “pahit”nya diolok-olok di dunia maya oleh muridnya sendiri. Berita yang mengenaskan justru datang dari dalam negeri, dari sebuah daerah di Purwokerto dikabarkan seorang ibu yang tengah asyik ber”Blackberry Messenger”an melalaikan tugas menjaga anaknya yang berakhir dengan kematian sang anak karena terbekap di saat tidur !

                Alhamdulillah, semua ekses negatif yang dapat berakhir sebagai musibah virtual semestinya energinya dapat diubahsuaikan sehingga arah dari pusaran gegar teknologi ini justru menjadi bersifat membangun. Seorang ahli neurosains beken dari Inggris, Susan Greenfield, bahkan harus mengoreksi hipotesanya sendiri tentang efek negatif dari game komputer pada anak dan remaja. Dalam rilis terbarunya beliau menyampaikan beberapa fakta yang justru menunjukkan adanya dampak positif dari permainan interaktif di piranti komputer dan telepon seluler. Jika game dan jejaring sosial bisa begitu atraktif dan mampu menyedot minat serta perhatian berbagai kalangan, mengapa semangat itu juga tidak dimunculkan sebagai sebuah sistem untuk belajar dan mengunggah pengetahuan ? Tren kreatif lainnya yang juga sangat dikhawatirkan oleh guru dan orangtua hari ini adalah komik ! Mengapa ? Karena membaca komik dianggap hanyalah pekerjaan sia-sia yang membuang-buang waktu yang semestinya sangat berharga. Banyak orangtua beranggapan bahwa kandungan isi cerita komik tak bermutu dan cenderung menajdikan anak terjebak dalam fantasinya saja. Padahal banyak komik, khususnya yang diproduksi besar-besaran oleh Jepang, mengandung pengetahuan-pengetahuan yang sangat berharga. Penyajian ala komik atau Manga yang sangat menarik membuat pengetahuan yang sebenarnya terkategori “berat” menjadi renyah dan lezat untuk dicerna. Sebagai contoh, banyak sekali ilmu kedokteran, penyakit, dan proses bedah yang dapat dipelajari melalui sebuah komik tentang dokter bedah “bandel” Asada berjudul Team Medical Dragon. Penanganan kesehatan komunitaspun banyak diungkap dalam komik berjudul “Dr.Koto”, ilmu bisnis dan kewirausahaan bisa dipetik dari serial komik Daikichi, ilmu tentang investasi dan bursa sahampun dapat dipelajari lewat komik, bahan makanan, gizi, dan kandungan bermanfaat dari berbagai resep “mak nyuss” juga bisa dipelajari lewat komik. Contoh komik yang banyak mengupas serba-serbi dunia kuliner lengkap dengan ilmu nutrisinya adalah “Born to Cook”. Sedangkan komik yang mengajari tahapan-tahapan pemrograman, koding, dan juga seluk-beluk bisnis ICT dapat disimak di “Akihabara Deep”. Saat inipun telah mulai membanjir di pasaran buku Indonesia berbagai komik Sains asal Korea Selatan yang disajikan dengan sangat menarik. Ilustrasi yang full color, lucu, hidup, dan skematis, berpadu dengan teks narasi yang singkat, padat, dan jelas atau bernas.

                Bagaimana dengan di perguruan tinggi ? Bisakah media baru ini dimanfaatkan secara optimal untuk menunjang proses pembelajaran ? Tentu sangat bisa ! Mengingat saat ini beban psikologis seorang mahasiswa sangatlah berat, sistem pembelajaran yang berorientasi pada siswa mengharuskan mereka jauh lebih aktif dalam mengakses materi perkuliahan. Adanya tenggat masa studi dan kriteria nilai yang menjadi salah satu tolok ukur dalam dunia kerja juga semakin memperberat aspek psikologis mahasiswa. Untuk itu diperlukan sekali media-media pembelajaran yang bersifat rekreatif-edukatif sebagai wahana katarsis stressor psikologis, sekaligus sarana belajar yang efektif. Seorang pengajar anatomi di salah satu fakultas kedokteran terkemuka di Korea Selatan,Jin Seo Park, menggagas sebuah pendekatan segar dengan membuat komik belajar anatomi. Dalam artikel ilmiahnya beliau menyampaikan sitasi berupa fakta penelitian sebagai berikut: Comics have been used in science education, including chemistry(Di Raddo, 2006) and biochemistry (Nagata, 1999).One group created a science curriculum that incorporatedcomic strips and provided students with opportunities toread, discuss, and respond to the contents of these comics.The comic strips stimulated students’ interest in science issuesand promoted science literacy (Olson, 2008). In anotherstudy, children exposed to science comics were able to givescientific explanations for the comics based on their ownexperiences (Weitkamp and Burnet, 2007).


Dari berbagai fakta tersebut terkuak bahwa peng-gunaan pendekatan visual akan sangat membantu mahasiswa atau siswa untuk memahami materi pem-belajaran. Penulis semenjak medio 2003 dalam kapasitas sebagai staf akademik Fakultas Kedo-kteran Universitas Diponegoro Semarang yang ditempatkan di unit belajar mandiri dengan workshop yang bernama Central Teaching Material Processing (CTMP), telah mencoba ber-bagai pendekatan komunikasi pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi multimedia dan produk kreatif. Salah satu produk pembelajaran kreatif itu adalah sebuah komik bergenre Manga yang berjudul “Cancer Attack”, dimana di dalamnya dijelaskan tahapan-tahapan terjadinya penyakit kanker leher rahim (Ca Cervix) melalui cerita sedikit berbau fantasi dan ilustrasi sebagaimana komik petualangan lainnya. Selanjutnya pada tahun 2011 dalam mata kuliah Kompleksitas Psikososial di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung, penulis dengan dibantu oleh beberapa mahasiswa dari Institut Manajemen Telkom mengembangkan sebuah game Role Playing atau lebih dikenal sebagai RPG (role playing game) dengan nama Medicomz. Dimana pemain akan berperan sebagai dokter di sebuah Puskesmas dan menghadapi berbagai kondisi pasien dengan beragam penyakit yang dideritanya.




Besar harapan game ini akan menjadi semacam wahana belajar “virtual Puskesmas” dimana proses belajar tentang penyakit, obat, dan nasehat medis yang biasanya sulit dan menjadi momok bagi mahasiswa dapat dipelajari dengan gembira dan juga lebih memotivasi karena adanya unsur kompetisi. Ke depan sebenarnya game ini juga dapat dipergunakan sebagai salah satu program edukasi untuk masyarakat umum seperti anak sekolah, ibu rumah tangga, karyawan perusahaan, dan juga dapat menjadi salah satu metoda belajar dalam proses pendidikan kedokteran berkelanjutan Ikatan Dokter Indonesia yang diwajibkan bagi seluruh dokter di Indonesia. Dalam game Medicomz ini didapati fitur-fitur diagnostik, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang laboratorik dan radiologik, serta dilengkapi juga dengan sistem asessment yang mengharuskan pemain menguji kemampuannya dalam bidang medis. Asessment itu berupa pertanyaan-pertanyaan pilihan ganda (multiple choice question) yang harus dijawab agar pemain dapat melangkah ke level berikutnya. Fitur lain yang disediakan adalah “petualangan” berupa berbagai kisah fantasi pertempuran dengan monster untuk memperebutkan obat tertentu. Fitur ini ditujukan sebagai bagian rekreasional dari game, agar pemain tidak jenuh dan sekaligus juga mengadaptasi konsep game yang selama ini sudah dikenal oleh para mahasiswa. Silahkan profil game ini di www.youtube.com/watch?v=-MCVRwIPVdk
                Akhir kata, marilah kita bersama-sama terus mengembangkan media belajar kreatif yang dapat mengakomodir perkembangan teknologi tanpa mengabaikan tujuan hakiki proses belajar itu sendiri.

MENGENAL KANKER LEHER RAHIM DAN PAYUDARA


     Salah satu permasalahan kesehatan yang kerap dihadapi oleh kaum wanita, terutama di negara-negara berkembang adalah keganasan atau kanker. 2 kanker yang dikenal sebagai "pembunuh" utama wanita adalah kanker leher rahim dan kanker payudara. Kanker serviks pada stadium dini sering tidak menunjukan gejala atau tanda-tandanya yang khas, bahkan acapkali tanpa gejala sama sekali (silence). Salah satu gejala tidak khas yang sebenarnya sering dijumpai adalah keputihan. Tetapi karena keputihan kerap dianggap sebagai masalah kewanitaan yang "bisa-biasa" saja, maka gejala dan tanda awal keganasan ini sering luput diperhatikan. Padahal keputihan adalah "peringatan" dini dari berbagai kelainan di sistem reproduksi. Memang dalam ilmu ginekologi keputihan terdiri atas keputihan normal (fisiologis) dan yang bersifat patologis. Simak paparan dr.Boyke Dian Nugraha, SpOG, MARS berikut :

1. Fisiologis, dengan ciri:
- Tidak gatal, tidak berbau.
- Lendir berwarna bening.
- Terjadi hanya pada masa subur (wanita usia 20-40-an).
- Terjadi menjelang haid.
- Karena stres, kelelahan, celana dalam terlalu ketat.

2. Patologis, dengan ciri:
- Keluar lendir berlebihan disertai infeksi.
- Gatal, pedih, vagina kemerahan.
- Lendir berubah warna. 



    Padahal jika kita simak gejala dan tanda kanker leher rahim di bawah ini, kita akan segera menyadari bahwa keputihan sebenarnya bahkan sudah termasuk tanda dari kelainan yang bersifat lanjut. Gejala yang sering timbul pada stadium lanjut antara lain adalah :
  1. Pendarahan sesudah melakukan hubungan intim (contact bleeding).
  2. Adanya keputihan atau cairan encer dari kelamin wanita.
  3. Pendarahan pasca menopause.
  4. Pada tahap lanjut dapat keluar cairan kekuning-kuningan, berbau atau   bercampur darah, nyeri panggul atau tidak dapat buang air kecil.
     Yang tidak kalah penting untuk diidentifikasi adalah faktor-faktor penyebab kanker leher rahim. Pengetahuan yang memadai tentang faktor penyebab disertai cara penularan atau cara pencegahannya akan mengurangi resiko seorang wanita terkena kanker leher rahim. Lebih dari 95 persen kanker serviks berkaitan erat dengan infeksi HPV (Human Papiloma Virus) yang dapat ditularkan melalui aktivitas seksual. Saat ini sudah terdapat vaksin untuk mencegah infeksi HPV khususnya tipe 16 dan tipe 18 yang diperkirakan menjadi penyebab 70 persen kasus kanker serviks di Asia.

     Faktor penyebab seperti virus HPV dapat masuk dan memicu munculnya kanker leher rahim apabila difasilitasi atau "diundang". Proses undangan itu berupa beberapa aktivitas yang beresiko tinggi dan dapat menjadi jalan masuk ataupun memicu pertumbuhan sel-sel kanker. Beberapa faktor risiko yang sudah teridentifikasi dapat menimbulkan kanker serviks antara lain:
  1. Mulai melakukan hubungan seksual pada usia muda.
  2. Sering berganti-ganti pasangan seksual.
  3. Sering menderita infeksi di daerah kelamin.
  4. Melahirkan banyak anak.
  5. Kebiasaan merokok (risiko dua kali lebih besar).
  6. Defisiensi vitamin A,C,E.



Mengingat kanker leher rahim atau Ca Cervix ini pada tahap awal jarang menimbulkan gejala dan tanda yang khas, maka sebaiknya seorang wanita selain melakukan tindakan preventif dengan menghindari faktor-faktor resiko, juga secara rutin melakukan proses pemeriksaan dini secara rutin atau berkala. Mengapa ? Kanker leher rahim sudah dapat dikenali pada tahap pra kanker, yaitu dengan cara melakukan antara lain pemeriksaan penapisan (skrining), artinya melakukan pemeriksaan tampa menunggu keluhan. Beberapa medote skrining telah dikenal, yaitu antara lain: pap smear dan inspeksi visual dengan asam asetat (IVA).


Pap smear atau hapusan papanicolou adalah sebuah metoda pengambilan sampel jaringan dari daerah leher rahim yang disebut squamocollumnair junction, yang merupakan daerah paling rentan dan mudah terstimulasi menjadi lesi pra kanker. Proses pap smear ini secara sederhana dapat digambarkan sebagai proses mengecat jaringan leher rahim di atas gelas obyektif, laluy hasil pengecatan tersebut akan dinilai (dievaluasi) dan dicermati ada atau tidaknya perubahan sel leher rahim yang bersifat abnormal. Proses pengambilan sampelnya juga tidak sulit dan menyakitkan, kira-kira rangkaian prosesnya seperti berikut ini: pemeriksaan pap smear dilakukan di atas kursi periksa kandungan oleh dokter atau bidan yang terlatih, dengan menggunakan alat untuk membantu membuka vagina (spekulum cocor bebek). Ujung leher rahim ( daerah squmocollumnair junction) diusap dengan spatula untuk mengambil cairan yang mengandung sel-sel dinding leher rahim. Usapan ini kemudian diperiksa jenis sel-selnya di bawah mikrosop. Apabila hasil pemeriksaan positif (terdapat sel-sel yang tidak normal), harus segera dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dan pengobatan oleh dokter ahli kandungan.


     Pemeriksaan pap smear bagi wanita yang sudah menikah dianjurkan untuk dilakukan minimal sekali setahun. Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya kanker leher rahim adalah Inspeksi Visual dengan Asam Asetat. Metoda pemeriksaan ini murah dan cukup efektif untuk mendeteksi adanya lesi awal pra kanker. Cara pemeriksaan leher rahim berdasar teknik IVA adalah dengan cara melihat langsung leher rahim setelah memulas leher rahim dengan larutan asam asetat 3-5 persen. Bila setelah pulasan asam asetat 3-5% ada perubahan warna, yaitu tampak bercak putih, maka kemungkinan ada kelainan tahap pra kanker leher rahim.
    Pemeriksaan penapisan kanker leher rahim saat ini sudah dapat dilakukan di puskesmas, klinik, bidan, dokter umum, dokter spesialis kebidanan dan kandungan, dan tentu saja rumah-rumah sakit.


    Upaya pencegahan lain yang cukup efektif dan bersifat protektif adalah dengan vaksinasi. Mengingat lebih dari 95 persen kanker leher rahim diduga disebabkan oleh virus HPV maka vaksinasi terhadap HPV ( tipe 16 dan 18) diharapkan dapat mengurangi resiko terjadinya kanker. Virus HPV tipe 16 dan 18 merupakan penyebab utama kanker leher rahim di Asia. 70% kanker leher rahim di Asia disebabkan oleh infeksi virus HPV tipe 16 dan 18. Upaya pncegahan ini sudah waktunya untuk digalakkan dan disosialisasikan, mengingat saat ini usia penderita kanker leher rahim telah menjadi semakin muda. Data yang dirilis oleh bagian kebidanan dan kandungan Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung pada tahun 2009, tercatat usia pasien termuda adalah 21 tahun. Padahal data epidemiologi terdahulu menunjukkan bahwa usia rerata penderita kanker leher rahim adalah di atas 40 tahun. Kondisi ini menunjukkan makin intensnya faktor resiko dan penyebab memapari kaum wanita, sehingga kemungkinan untuk mengidap kanker di masa kini menjadi jauh lebih tinggi dibandingkan di masa lalu.

    Penyakit keganasan (neoplasma) lain yang kerap menyerang kaum hawa adalah kanker payudara. Kanker yang satu ini sesuai dengan namanya terdapat dan bersarang di daerah kelenjar payudara. Gejala awal dan umunya kurang lebih demikian, gejala awal kanker payudara dapat berupa adanya benjolan pada payudara. Umumnya berupa benjolan yang tidak nyeri, benjolan itu mula-mula kecil, makin lama makin besar, lalu melekat pada kulit atau menimbulkan perubahan pada kulit payudara atau pada puting susu. Terjadi radang yang menimbulkan erosi atau eksema puting susu. Akibatnya kulit atau puting susu tertarik ke dalam (retraksi), berwarna merah muda atau kecoklat-coklatan sampai menjadi edema hingga kulit kelihatan seperti kulit jeruk (peau d'orange), mengkerut, atau timbul borok (ulkus) pada payudara. Borok itu makin lama makin besar dan mendalam sehingga dapat merusak hampir seluruh jaringan payudara. Acapkali berbau busuk, dan mudah terjadi perdarahan, terutama pada daerah puting susu. Rasa sakit atau nyeri pada umumnya baru timbul kalau tumor sudah besar, sudah timbul borok, atau kalau sudah ada metastase ke tulang-tulang. Kemudian timbul pembengkakan kelenjar getah bening di ketiak, bengkak (edema) pada lengan, dan penyebaran kanker ke seluruh tubuh (Handoyo, 1990). Kanker payudara lanjut sangat mudah dikenali dengan mengacu kepada kriteria Heagensen sebagai berikut: terdapat edema luas pada kulit payudara (lebih 1/3 luas kulit payudara); adanya nodul satelit pada kulit payudara; kanker payudara jenis mastitis karsinimatosa; terdapat model parasternal; terdapat nodul supraklavikula; adanya edema lengan; adanya metastase jauh; serta terdapat dua dari tanda-tanda lokal radikal seperti ulserasi kulit, edema kulit, kulit terfiksasi pada dinding toraks, kelenjar getah bening aksila berdiameter lebih 2,5 cm, dan kelenjar getah bening aksila melekat satu sama lain. (Wikipedia Indonesia, 2009). Secara umum kanker payudara terbagi atas kanker dengan sel yang sensitif terhadap hormon estrogen (memiliki reseptor estrogen) dan kanker dengan sel yang tidak sensitif terhadap estrogen.




Hasil pemotretan mammografi, paling kiri normal dan gambar kanan tampak massa tumor


    Faktor resiko dan penyebab kanker payudara banyak dikaitkan dengan gaya hidup dan perilaku seorang wanita. Diet tinggi lemak, pajanan radiasi elektromagnetik, dan radiasi pengion, serta aktivitas radikal bebas sering dikaitkan dengan insidensi kanker payudara. Tidak pernah melahirkan, menopause yang tertunda, dan uasia pertama kali haid yang terlalu dini juga dianggap bertanggungjawab terhadap terjadinya kanker payudara. Secara genetik adanya polimorfisme atau mutasi pada gen-gen BRCA (1,2, dan 3) akan meningkatkan resiko terjadinya kanker payudara. Pemberian hormon dari luar (sulih hormon) yang tidak hati-hati dan dalam dosis proporsional diduga juga merupakan salah satu penyebab kanker payudara.

    Apabila pada kanker leher rahim terapi pembedahan lokal dapat dijadikan modul terapi utama pada kasus yang terdeteksi dini, maka pada kanker payudara pembedahan biasanya bersifat radikal dan akan diikuti oleh serangkaian proses radioterapi, dan pemberian zat-zat kemoterapi. Obat-obat kemoterapi modern sudah jauh lebih efektif dn lebih tepat sasaran Khusus pada kanker payudara yang memiliki sensitifitas terhadap estrogen sudah terdapat obat obat yang spesifik dan terbuat dari antibodi monoklonal terhadap reseptor faktor pertumbuhan c-erb B2. Obat tersebut bernama Trastuzumab.

    Cara preventif yang paling efektif adalah melakukan pemeriksaan payudara sendiri ( sadari) secara rutin. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi adanya benjolan ( tumor), lesi atau borok kecil, rasa nyeri, dan keluarnya cairan abnormal dari puting susu. Kadangkala di usia pubertas atau remaja dewasa terdapat benjolan di payudara. Apabila tidak disertai keluhan-keluhan dan gejala lain yang mengarah kepada kanker payudara, benjolan itu biasanya hanyalah fibroma atau fibrokistik, yaitu penebalan dari jaringan ikat yang tidak membahayakan.

    Simak cara-cara pemeriksaan payudara sendiri yang terdapat di dalam gambar-gambar petunjuk berikut :




    Sekali lagi, jika anda menjumpai gejala dan tanda-tanda yang tidak lazim mohon segera menghubungi petugas kesehatan yang berkompeten untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Penemuan secara dini kasus-kasus kanker adalah kunci untuk kesuksesan proses terapi. Ayo peduli dan jadilah wanita yang cantik dan sehat seutuhnya !